Hengky MS Dan Kisah Legenda Yang Tercampak

Hengky MS Dan Kisah Legenda Yang Tercampak

9 Januari 2026

PEGADAIAN CHAMPIONSHIP 2025-26

SRIWIJAYA FC dan PSIS Semarang berada di bibir jurang Pegadaian Championship. Legenda-legenda yang terancam lenyap dari klub profesional.

Hengky Mirantoneng Sumanti namanya. Pria Sanger –lahir di Manado, jadi legenda di Papua. Bersama Black Brothers, grup band yang dia dirikan jadi salah satu tonggak musik Indonesia mulai dekade 1970-an.

Salah satu lagu hitsnya: Persipura. Bukan lagu yang pernah menduduki anak tangga tertinggi, tapi tetap dinyanyikan hingga sekarang.

Hengky, juga skuat Black Brothers lainnya, adalah pengagum Papua. Termasuk Persipura. Mereka besar dan meroket bersamaan dengan menjulangnya nama Timo Kapisa, Johanes Auri, hingga Hengky Heipon di klub berjulukan Mutiara Hitam itu.

“Timo Kapisa, Johanes Auri, dan kawan-kawannya/bermain gemilang, menerjang lawan/dan selalu menang. Persipura mutiara hitam/Persipura selalu gemilang,” begitu antara lain bagian liriknya.

Setahun sebelum menghembuskan napas terakhirnya pada 2006, Hengky MS masih sempat mendengar Persipura menjuarai Kompetisi Liga 1. Setelah itu, klub yang lama ditukangi Jacksen F Tiago itu memenangkan tiga gelar lainnya.

Tapi, tak selamanya Persipura gemilang. Musim 2021/22 lalu, mereka hanya mengoleksi 36 poin dari 34 pertandingan. Mutiara Hitam itu mengalami degradasi ke Liga 2. Turun bersama Persiraja Banda Aceh dan Persela Lamongan.

Persipura hilang dari kasta tertinggi sepak bola Indonesia setelah 28 tahun. Runtuh sebagai pemilik rekor klub pertama yang menjuarai Liga 1 empat kali. Rekor yang baru musim lalu bisa disamai Persib Bandung.

Musim lalu, Persipura bahkan hampir saja tergelincir lagi. Mereka terselamatkan di pertandingan playoff. Persipura menang 2-1 atas Persibo Bojonegoro. Terselamatkan karena gol ajaib Boaz Solossa detik-detik menjelang pertandingan berakhir.

Kini, Mutiara Hitam itu relatif aman. Mereka bahkan menduduki peringkat ketiga di Grup 2 Pegadaian Championship. Mereka relatif aman bahkan berpeluang merebut salah satu tiket promosi ke BRI Super League.

Nasib Persipura, sialnya, tak diikuti klub-klub legendaris Indonesia yang bertarung di Pegadaian Championship. Dua di antaranya bahkan berada dalam zona degradasi: Sriwijaya FC dan PSIS Semarang.

Sriwijaya FC saat ini bahkan menduduki posisi juru kunci Pegadaian Championship Grup 1. Sudah memainkan 14 laga, belum sekalipun Laskar Wong Kito itu meraih kemenangan. Sriwijaya FC hanya mendapatkan dua poin.

Padahal, Sriwijaya FC pernah jadi kiblat sepak bola nasional. Dua kali mereka menjuarai Liga 1: 2007 dan 2011/12. Mereka diperkuat Ferry Rotinsulu, Tony Sucipto, Isnan Ali, Zah Rahan, Christian Lenglolo, Keith Jerome Gumbs (2007) dan Ferry Rotinsulu, Achmad Jufriyanto, Nova Arianto, Supardi Nasir, Syamsul Chaeruddin, Firman Utina, Ponaryo Astaman, dan Hilton Moreira, (2011/12).

Sialnya, Sriwijaya FC adalah klub yang tergantung pada figur sentral: keluarga Alex Noerdin. Begitu Alex Noerdin turun dari posisi Gubernur Sumatera Selatan, Sriwijaya FC masih bisa sedikit bernapas. Masih ada Dodi Alex Noerdin, anaknya yang tak hanya pengusaha, politisi, dan Bupati Musi Banyuasin.

Saat keduanya terjerat karena kasus korupsi, Sriwijaya FC mati angin. Tak ada yang sungguh-sungguh bisa menyelamatkan. Termasuk saat ini ketika mereka menghadapi persoalan keuangan dan manajemen yang akut, membuat Sriwijaya FC terperosok di dasar klasemen Pegadaian Championship Grup 1.

Persoalan serupa tapi tak sama juga dihadapi PSIS Semarang. Mereka kehilangan dukungan menjelang akhir musim lalu. Begitu mengalami degradasi musim lalu, masalah seperti tiada berakhir.

Gontok-gontokan antara pemilik klub Yoyok Sukawi dan pendukung klub, membuat suasana PSIS jauh dari harmonis. Suasana yang membuat Yoyok akhirnya menyerah, menjual saham mayoritasnya kepada Datu Nova Fatmawati.

Apakah PSIS akan selamat dari ancaman degradasi ke Liga Nusantara, masih harus dibuktikan di akhir musim ini. Harapan mereka masih ada dengan perbaikan-perbaikan yang dilakukan manajemen baru, termasuk mendatangkan sejumlah pemain bintang.

Jika PSIS harus mengikuti jejak Sriwijaya FC, mereka akan menjadi penerus legenda-legenda yang hilang dari peredaran kasta tertinggi sepak bola Indonesia. (era)