Mendadak Final di Manado

Mendadak Final di Manado

3 September 2026

BRI SUPER LEAGUE 2026-27

Gejolak politik era reformasi di pertengahan 1998, memaksa kompetisi sepak bola terelite di Tanah Air harus rehat. Namun tidak butuh waktu lama, dengan segala daya kompetisi sepak bola akbar kembali menggeliat pada November 1998.

Kondisi yang masih belum normal dari segi finansial, membuat kompetisi dimodifikasi. Bukan dengan format kompetisi penuh, seperti layaknya persaingan sepak bola di tataran liga. Format pembagian grup serta putaran final, menjadi pilihan untuk memangkas durasi kompetisi sehingga berakhir di April 1999.

Laga final pun menjadi sebuah 'final mendadak Manado'. Insiden yang terjadi pada laga semifinal di Jakarta, membuat Ibu Kota Sulawesi Utara itu menjadi pilihan menggelar duel pamungkas yang mempertemukan Persebaya Surabaya dan PSIS Semarang.

Markas Badai Biru, julukan Persma Manado, yakni Stadion Klabat menjadi tempat dilangsungkannya duel penuh gengsi itu. Orang nomor satu di Sulut kala itu, Gubernur EE Mangindaan, menjamin laga berlangsung aman, setelah menerima penunjukkan dari Ketua Umum PSSI Agum Gumelar.

Manado, bukan hanya menonjol karena keindahan Taman Laut Bunaken yang terkenal seantero jagat. Manado, atau Sulut, juga dikenal pemilik ikan purba Coelacanth. Ikan yang dijuluki Raja Laut dengan nama latin Latimeria Menadoensis.

Ikan langka yang hanya ditemukan di dua daerah di dunia. Manado dan Kepulauan Komoro, dekat dengan Madagaskar dan Afrika Selatan. Di kawasan Komoro itu, ikan purba itu dinamai gombessa atau ikan Coelacanth Afrika, dengan nama latin Latimeria chalumnae.

Begitu pun dengan Stadion Klabat. Kandang Persma itu sebelumnya menjadi tempat unjuk aksi bintang dunia asal Brasil, the Phenomenon Ronaldo Nazario. Pada 1995, Ronaldo tampil selama 15 menit pada akhir laga melawan Persma di Stadion Klabat, berkostum PSV Eindhoven Belanda yang dibesut pelatih ternama, Dick Advocaat.

Warga Manado dan Sulut yang fanatik sepak bola, melihat langsung gocekan Ronaldo mempedaya pemain Persma yang diperkuat nama-nama seperti Izack Fatari, Francis 'Enal' Mewengkang, hingga legiun asing Rodrigo Araya. 

Persma takluk setengah lusin gol, tanpa mampu membalas. Dan Ronaldo pun kemudian benar-benar menjadi bintang Brasil dengan menjadi finalis Piala Dunia 1998 Prancis, sebelum mengangkat trofi juara dunia pada empat tahun kemudian di Korsel-Jepang. Ronaldo menjulang dengan gaya rambut khas, 'kuncung'.

Stadion Klabat pun bersolek

Mesin penggilas jalan dikerahkan siang dan malam untuk meratakan lapangan. Demikian pula dengan kesiapan tribun, baik yang bertempat duduk maupun untuk penonton yang berdiri.

Lape, sapaan akrab EE Mangindaan, percaya pertandingan final bakal berlangsung sukses. Warga Manado yang fanatik sepak bola bakal menikmati suguhan persaingan dua tim asal Pulau Jawa, tanpa membuat onar. Kendati laga final itu dilangsungkan di musim kampanye Pemilu yang pertama selepas reformasi dengan banyaknya partai politik yang berpartisipasi.

Selain kesiapan Manado, PSSI juga disibukkan membawa dua tim serta perangkat pertandingan dari Jakarta. Diputuskan kedua tim berangkat satu pesawat dari Bandara Halimperdanakusumah, Jakarta, menggunakan pesawat angkut militer berjenis Hercules. 

Pesawat yang biasanya melakukan penerbangan dengan transit di Makassar, Sulawesi Selatan, tapi kali ini langsung menyelesaikan penerbangan Jakarta hingga mendarat di Manado. Nonstop terbang empat jam tanpa singgah di Makassar.

"Dari tadi saya was-was menunggu Hercules mendarat. Ini tidak biasanya Hercules terbang langsung Jakarta-Manado. Biasanya transit di Makassar dulu," ungkap Ketua Umum PSSI saat itu, Agum Gumelar kepada wartawan peliput yang terbang bersama Hercules milik TNI itu.

Laga final 'usiran' akhirnya dilangsungkan. Puluhan ribuan pasang mata penonton yang memadati Stadion Klabat menyaksikan bentrok seru Bajul Ijo Persebaya Surabaya dan Mahesa Jenar PSIS Semarang. Persebaya yang menjadi favorit juara, ternyata mampu dibendung PSIS Semarang sepanjang pertandingan. 

Bahkan kemudian PSIS yang dipoles Edy Paryono mampu memanfaatkan serangan balik cepat untuk membuahkan gol penentu kemenangan di menit ke-89.

Mencuatlah nama Tugiyo, striker gempal PSIS yang menjadi pembeda. Karena postur tubuh serta gerakan lincah di lapangan hijau, membuat Tugiyo ditahbiskan sebagai 'Maradona dari Purwodadi'. 

Purwodadi, Jawa Tengah, merupakan asal dari pemain PSIS itu. PSIS Semarang pun memastikan menjadi juara. Posisi terbaik yang didapat, kendati sempat terseok di awal kompetisi karena minim pendanaan. 

Namun keberuntungan menaungi bond Kota Lumpia itu. Ini karena banyak mendapatkan pemain asal Arseto, klub asal Solo yang bubar sebelum kompetisi bergulir. 

Sebut saja Ali Sunan, Agung Setyabudi, hingga Bonggo Pribadi. Nama legiun asing yang memberi andil, yakni Simon Atangana, Ebanda Timothy, dan Ali Shaha.

Sebaliknya Persebaya yang dominan dengan dua kali mengalahkan PSIS di fase grup dan putaran final, kali ini harus menyerah. Padahal secara kualitas pemain, di atas kertas Persebaya bakal unggul. Nama seperti geladang Eri Irianto, Aji Santoso, Bejo Sugiantoro, hingga Chairil 'Pace' Anwar, kemudian Uston Nawawi, serta Jacksen F Tiago menjadi andalan tim Kota Pahlawan itu.

Persaingan Surabaya dan Semarang akan berlanjut di BRI Super League 2026/27 ini. 

Persebaya Surabaya tetap mewakili Kota Pahlawan Surabaya, tetapi bukan PSIS yang mengusung Kota Lumpia Semarang. Adalah Java United FC yang memutuskan bermarkas di Stadion Jatidiri Semarang. Klub yang mengusung julukan Laskar Kepodang Emas, merupakan transformasi dari Malut United FC yang sebelumnya bermarkas di Ternate, Maluku Utara. 

Ini sesuai dengan keputusan di Kongres Biasa PSSI, 3 Agustus 2026, menetapkan perubahan nama Malut United FC menjadi Java United FC.

Tim promosi Adhyaksa FC Banten juga mengikuti jejak Malut United FC, berganti nama dan memindahkan home basenya. Adhyaksa FC yang promosi ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia setelah mengalahkan Persipura Jayapura di laga playoff, kini berganti nama menjadi Isenmulang Kalteng FC. Palangka Raya, Ibu Kota Kalimantan Tengah, menjadi pilihan sebagai markas tim.

Isenmulang merupakan bahasa Dayak yang berarti pantang menyerah. Tekad yang bakal diwujudkan klub promosi itu dalam mengarungi tahun pertamanya di tataran elite sepak bola Indonesia.