KOMPETISI perdana penggabungan sepak bola dari jalur perserikatan dan jalur Galatama pada akhir 1994 ditandai pula dengan kehadiran pemain asing. Kebijakan yang terus berlanjut hingga musim ini di BRI Super League dengan berbagai dinamika.
Di Stadion Lebak Bulus, Jakarta Selatan, kawasan yang kini menjadi kandang kereta MRT Jakarta, saat sore masih belum larut, bermainlah para pemain asing. Unjuk aksi di lapangan hijau para pemain asing itu menjadi etalase bagi klub peserta untuk memilih pemain, sebagai persiapan Liga Indonesia musim perdana yang bergulir November 1994.
Kompetisi semipro, demikian disebutkan kala itu, karena jalur perserikatan yang sebelumnya berlabel amatir, sedangkan Galatama atau klub disebut sebagai profesional. Kompetisi yang berjalan dengan 34 tim yang bersaing sehingga memunculkan sebutan sebagai liga dengan jumlah peserta terbanyak sejagat.
Dari penampilan pemain asing di Stadion Lebak Bulus, nama-nama yang kemudian tenar di sepak bola Tanah Air bermunculan. Sebut saja Dejan Gluscevic yang membela Pelita Jaya Jakarta, kemudian dua nama yang mengangkat reputasi Petrokimia Putra Gresik yakni Jacksen F Tiago serta Carlos de Mello. Ada pula Vata Matanu Garcia yang kemudian berkostum klub Gelora Dewata.
Dua nama tenar dunia, kendati sudah tidak muda lagi, sempat pula dihadirkan. Yakni bintang Kamerun Roger Milla dengan kontrak fantastis untuk bermain beberapa bulan bersama Pelita Jaya. Demikian pula dengan bintang Piala Dunia 1978 asal Argentina, Mario Kempes oleh klub yang didanai keluarga Bakrie itu.
Pada musim 1996/1997 sampai 2002, muncul nama-nama pesohor di lapangan hijau, yakni Luciano Leandro (PSM Makassar), Antonio Claudio (PSP Padang/Persija), Mbeng Jean (Persija, kiper asal Kamerun). Sedangkan Carlos de Mello (Persebaya Surabaya) menjadi salah satu pemain termahal kala itu. Persebaya merogoh kocek dalam demi menyatukan Carlos de Mello dan Jacksen F Tiago untuk meraih gelar juara LI 1996/1997.
Percaturan pemain asing tidak pernah sepi dan berlanjut dengan munculnya Cristian Gonzales (PSM Makassar/Persik Kediri), Ronald Fagundez (PSM), Zah Rahan Krangar (Persekabpas), Emmanuel De Porras (Persija) pada 2003 hingga 2007. Bomber asal Uruguay Cristian Gonzales (Persik Kediri) berstatus sebagai pemain termahal. Menjelang pertengahan 2000-an, pamor El Loco, julukan Gonzales, melonjak. Persik Kediri menjadikannya pemain asing dengan bayaran tertinggi setelah ia sukses membawa tim meraih gelar juara beruntun dan menjadi top skor.
Memasuki era Indonesia Super League/ISL hingga 2012, muncul pemain bintang seperti Beto Goncalves (Persipura), Abanda Herman (Persija), Keith Kayamba Gumbs (Sriwijaya FC), Robertino Pugliara (Persija). Dua pemain asal Liberia Zah Rahan Krangar dan Boakay Eddie Foday (Persipura Jayapura/Sriwijaya FC) mendominasi nilai pasar ISL dengan kontrak berkisar di angka Rp1,2 miliar hingga Rp1,5 miliar per musim.
Kemudian pada 2013 sampai 2015, muncul pemain bergaji termahal mencapai Rp2 miliar. Yakni ketika Mitra Kukar mendapatkan jasa dari Erick Weeks Lewis. Nilai kontrak yang terus meningkat terjadi pada 2017, ketika Persib Bandung mendatangkan pemain asal Ghana, Michael Essien. Mantan megabintang Chelsea dan Real Madrid ini memecahkan rekor nilai kontrak tertinggi dalam sejarah sepak bola Indonesia dengan nilai pasar/kontrak dilaporkan berkisar antara Rp9 miliar hingga Rp11 miliar.
Kemudian hingga 2022, Bali United harus merogoh kocek hingga Rp8,9 miliar untuk mendatangkan gelandang asal Irak berpaspor Swedia, Brwa Nouri. Sedangkan bintang lapangan yang bersinar yakni, Marko Simic (Persija), Brwa Nouri (Bali United), Ezechiel N'Douassel (Persib), Nick Kuipers (Persib).
Musim 2022/2023, Macan Kemayoran Persija mendatangkan striker Timnas Republik Ceko, Michael Krmencik. Manajemen Persija mendapatkan dengan harga fantastis mencapai Rp22,9 miliar hingga Rp26 miliar per musim.
Kini Persija masih memiliki pemain termahal, yakni gelandang kelas Eropa, Stjepan Loncar dengan angka pasar Rp20,86 miliar. Nilai itu, bersaing ketat dengan gelandang naturalisasi milik Maung Bandung Persib, Thom Haye, yang valuasinya menembus kisaran Rp15 miliar–Rp17,38 miliar.
Prestasi Asia
Sementara itu, perkembangan penggunaan pemain asing di kompetisi Tanah Air, serta juga di kompetisi internasional tingkat Asia, memunculkan hasil yang menggembirakan. Dari aturan hanya tiga pemain asing di awal kehadiran, dan kini tersedia 11 pemain asing dalam setiap klub BRI Super League 2026/27.
Setelah sukses menembus babak 16 besar ACL Two pada musim 2025/2026, Persib Bandung mencetak sejarah baru pada musim 2026/2027 ini. Di bawah asuhan Igor Tolic, Maung Bandung secara mengejutkan menumbangkan klub raksasa Korea Selatan, FC Seoul, dengan skor 1-0 dalam laga tandang fase grup. Hasil ini mendongkrak posisi Persib Bandung masuk dalam jajaran 5 besar klub terbaik di Asia Tenggara versi Opta Power Rankings.
ACL Two atau AFC Champions League Two merupakan kasta kedua kompetisi antarklub yang digagas Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC). Kompetisi yang ada di bawah AFC Champions League Elite. Sedangkan kasta ketiganya, yakni AFC Challenge League.
Dengan format hingga 11 pemain asing di dalam satu klub, wakil Indonesia memiliki kedalaman materi pemain untuk bersaing di kancah Asia. Format yang membuat wakil Indonesia bisa berbicara, seperti yang dilakukan wakil negara Asia Tenggara lain, seperti Tailan, Malaysia, Singapura, hingga Filipina.
Capaian Persib diharapkan berlanjut untuk menancapkan nama Indonesia di kancah antarklub Asia lagi. Seperti yang pernah dicatatankan klub Krama Yudha Tiga Berlian di Piala Champions Asia 1985/1986 dengan menempati peringkat ketiga setelah menang 1-0 atas Al-Ittihad Suriah. Prestasi semifinals Piala Winners Asia 1991/1992 yang ditorehkan Pupuk Kaltim, serta rekor fantastis Tim Mutiara Hitam Persipura Jayapura yang menembus semifinal Piala AFC 2014. Kala itu, Boaz Solossa dan kawan-kawan dihentikan oleh Al-Qadsia, klub raksasa asal negeri petrodolar, Kuwait.