Profil Borneo FC Samarinda

Profil Borneo FC Samarinda

3 September 2026

BRI SUPER LEAGUE 2026-27 BORNEO FC SAMARINDA

Oleh: Tim Football Academy I.League

Borneo FC Samarinda mengakhiri kompetisi pada musim 2025/26 di peringkat kedua dengan raihan 79 poin. Jumlah poin tersebut merupakan nilai yang sama dengan raihan poin yang berhasil dikoleksi oleh sang juara, Persib Bandung. Borneo FC hanya gagal merengkuh trofi karena kalah secara head to head dari Persib Bandung, dan memaksa perebutan gelar juara ditentukan di pekan terakhir.

Selain memberikan persaingan yang sengit, Borneo FC juga berhasil mencatatkan rekor fantastis dengan 11 kemenangan beruntun yang diraih dari pekan pertama di bulan Agustus hingga akhir November 2025. Mereka juga menjadi tim yang paling subur, total 74 gol berhasil mereka sarangkan ke gawang lawan.

Performa yang mereka tunjukkan musim lalu tentu menjadikan mereka salah satu kandidat kuat untuk merebut gelar juara musim 2026/27 ini. Namun, Borneo FC justru ditinggalkan nahkoda dan sejumlah pemain kunci mereka. 

Fabio Lefundes memutuskan untuk tidak melanjutkan kebersamaannya dengan skuad Pesut Etam dan memilih untuk berlabuh sebagai pelatih kepala Java United untuk musim 2026/27. 

Sementara itu Mariano Peralta yang berhasil meraih penghargaan pemain terbaik musim lalu, meninggalkan Borneo FC untuk menuju ke Persib Bandung. Beberapa pemain lainnya seperti Christophe Nduwarugira, Kei Hirose, dan Nadeo Argawinata juga meninggalkan sang runner up.

Berikut ini adalah ulasan kontribusi penting mereka terhadap performa Borneo FC, kehilangan yang harus ditambal oleh rekrutan-rekrutan baru, dan peluang bagi pemain-pemain yang masih bertahan untuk meningkatkan level mereka.

Beruntung bagi Borneo FC karena Juan Villa masih berseragam oranye untuk musim 2026/27. Dirinya tepat berada di urutan kedua setelah Nduwarugira dalam hal melepaskan passing progresif. Tidak hanya itu, Juan Villa juga tepat berada di urutan kedua di belakang Peralta dalam hal menerima passing progresif. 

Total 91 passing progresif telah dia lepaskan dari 1.096 keseluruhan passing, dan jarak yang berhasil dieksploitasi dan passing progresif yang dia lakukan mencapai 2.130 meter. Sementara itu dari 1.200 passing yang diterima oleh Juan Villa, 75 di antaranya merupakan passing progresif. Total jarak yang berhasil dieksploitasi dari passing progresif yang diterimanya mencapai 1.804,42 meter.

Christophe Nduwarugira

Pemain berkewarganegaraan Burundi yang lahir pada tahun 1994 ini beroperasi di posisi bek tengah kiri. Dari posisi tersebut, passing progresif yang paling banyak dilakukan tentu saja tidak jauh-jauh dari rekan-rekannya yang beroperasi di area sebelah kiri, yaitu fullback kiri, gelandang serang kiri, sayap kiri, dan striker yang bergerak ke sisi kiri. 

Tercatat lima pemain yang paling sering menerima passing progresif dari Nduwarugira adalah Peralta, Caxambu, Juan Villa, Kei Hirose, dan Joel Vinicius.

Grafik di atas menunjukkan tiga tipe passing progresif yang paling sering dilakukan oleh Nduwarugira kepada pemain-pemain tersebut. Dari grafik tersebut terlihat bahwa Nduwarugira cenderung untuk melakukan passing progresif yang bersifat vertikal baik itu ke koridor halfspace ataupun ke sisi lapangan. 

Selain melepaskan passing progresif ke Peralta atau Juan Villa, dirinya juga kerap melepaskan passing progresif ke Caxambu yang berposisi sebagai fullback kiri. Hal ini merupakan salah satu aspek penting dalam permainan Borneo FC untuk mengintegrasikan Caxambu di area menyerang mengingat dirinya memiliki kemampuan overlap dan crossing yang cukup baik.

Tidak hanya piawai dalam menggerakkan bola ke depan, Nduwarugira juga merupakan defender yang cukup tangguh. Baik itu dalam situasi open-play maupun situasi setpiece. Dalam situasi open-play, dirinya cukup cermat dalam membaca arah pergerakan bola, terutama dalam hal melindungi ruang di belakang lini. Faktor ini cukup penting mengingat pada kompetisi kasta tertinggi di Indonesia ini serangan yang dibangun pada momen transisi untuk menarget area belakang lini merupakan skema yang paling sering terjadi dan menciptakan banyak peluang.

Mariano Peralta

Keberhasilan Mariano Peralta menyabet gelar pemain terbaik musim lalu, cukup untuk menjelaskan bahwa kepergiannya merupakan sebuah kehilangan besar bagi skuad Pesut Etam. Kemampuannya dalam menemukan celah untuk menusuk ke area pertahanan lawan sangat krusial, hal ini ditunjukkan dari fakta bahwa dirinya adalah pemain yang paling banyak menerima passing progresif dari rekan-rekannya.

Grafik di atas menunjukkan pola passing progresif yang paling sering diterima oleh Peralta dari lima rekannya. Area yang paling sering dia manfaatkan untuk menerima passing progresif adalah sisi kiri penyerangan, namun terdapat beberapa momen di mana dirinya bergerak ke sisi lain dan juga area sentral. 

Salah satu yang menarik untuk kita perhatikan dengan lebih seksama adalah relasinya dengan Juan Villa, pemain ke-dua terbanyak dalam hal melakukan passing progresif di skuad Borneo FC. Sebagian besar passing progresif yang diterima Peralta ke area sentral dan area di dalam kotak penalti berasal dari Juan Villa. 

Kolaborasi ini memberikan nilai xT (expected threat) yang paling tinggi. Pengganti Peralta di skuad Borneo tentu harus bisa memberikan pergerakan yang serupa untuk memaksimalkan kemampuan Juan Villa dalam memberikan passing-passing yang merobek jantung pertahanan lawan.

Grafik di bawah ini menunjukkan tipe passing yang paling sering diterima oleh Peralta dari rekan-rekannya. Terlihat bahwa area bermain utamanya adalah di sisi kiri, namun dalam beberapa situasi dirinya juga bergerak untuk menerima bola di sisi kanan dan sentral. Terlihat juga bagaimana dirinya memberikan opsi-opsi vertikal bagi rekan-rekannya.

Tidak hanya piawai dalam bergerak, Peralta juga ahli dalam menyelesaikan serangan yang dibangun oleh timnya, baik itu berupa finishing yang dia lakukan sendiri ataupun memberikan assist. Pemain kelahiran Adrogue, 20 Februari 1998 ini total menyumbang 20 gol dan 14 assist untuk timnya. Sumbangsih tersebut memiliki rasio satu gol/assist tiap pertandingan. Sebesar 45.9 persen dari total gol yang dicetak oleh Borneo FC, memiliki kontribusi langsung dari Peralta.
 

Grafik di atas menunjukkan peta tembakan yang dilakukan oleh Peralta pada musim 2025/26. Terlihat dirinya kerap melakukan tembakan dari dalam kotak penalti, utamanya di sisi sebelah kiri. Hal ini menunjukkan dirinya memiliki kemampuan untuk melakukan pergerakan berbahaya ke area kotak penalti lawan. Tidak hanya itu, dirinya juga mampu menemukan celah untuk melakukan tembakan dari luar kotak penalti jika dibutuhkan.

Juan Villa

Pemain kelahiran Kolombia, 10 Oktober 1999 ini merupakan kreator utama bagi permainan Borneo FC. Tercatat pada musim 2025/26 dirinya berhasil menyumbang 13 gol dan sembilan assist. Dirinya juga merupakan pemain terbanyak kedua yang melepaskan passing progresif, setelah Christophe Nduwarugira, sebanyak 91 kali. Dari 1.200 passing yang telah dia lakukan, Juan Villa berhasil meningkatkan ancaman (xT) timnya sebesar 4,795.

Pada grafik di atas terlihat empat tipe passing progresif yang kerap dilakukan oleh dirinya di area sepertiga akhir. Pola pertama (kiri atas), merupakan passing dari area halfspace kanan menyilang menuju ke dalam kotak penalti sisi kiri. Biasanya target dari passing ini adalah pergerakan yang dilakukan oleh Peralta, Caxambu, atau striker yang berusaha untuk memanfaatkan titik buta lawannya. 

Pola ini sering dilakukan oleh dirinya ketika menghadapi blok pertahanan yang lebih rendah. Pola ini juga memiliki nilai xT (expected threat) yang paling tinggi karena bola kerap jatuh ke dalam kotak penalti yang memungkinkan rekannya yang menerima bola untuk melakukan finishing atau memberikan assist dari dalam kotak penalti.

Pola kedua (kanan atas) dia lakukan baik itu dari halfspace kanan ataupun area yang lebih lebar dari sisi lapangan dengan trajektori yang lebih vertikal. Biasanya target dari passing ini adalah pergerakan Peralta, atau fullback sisi kanan. Pola ini lebih sering dia lakukan ketika menghadapi blok pertahanan dengan garis lini belakang yang lebih tinggi, sehingga memungkinkan untuk melepas passing yang lebih vertikal ke belakang lini.

Pola kedua ini memiliki kesamaan dengan pola ke-tiga (kiri bawah), hanya berbeda sisi di mana dia melakukannya. Umumnya selain pergerakan Peralta, pergerakan overlap yang dilakukan oleh Caxambu menjadi target dari pola ini. Sementara itu pola keempat (kanan bawah) merupakan variasi dari pola kedua, di mana dia memindahkan bola secara diagonal ke sisi lainnya ketika menghadapi blok pertahanan yang lebih tinggi.

Grafik di atas menunjukkan variasi tipe passing yang paling sering diterima oleh Juan Villa dan juga titik-titik lokasi dirinya menerima bola. Terlihat bahwa dirinya bergerak hampir ke seluruh area lapangan, baik secara horizontal dari kiri ke kanan maupun secara vertikal.

Rivaldo Pakpahan

Pemain kelahiran Tapanuli, 20 Januari 2003 ini merupakan pemain yang mendapatkan manfaat optimal dari regulasi U23 yang diterapkan pada musim 2025/26 dan musim sebelumnya. Total dirinya telah mencatatkan 4.246 menit bermain. Hal ini memberikannya kesempatan yang luar biasa untuk berkembang dan menjadi pilar penting keberhasilan Borneo FC merebut posisi kedua pada musim 2025/26.

Sebagai pemain yang menempati posisi strategis di area sentral, gelandang bertahan, tidak banyak passing progresif yang dilakukan oleh Rivaldo Pakpahan. Sepanjang musim 2025/26 dirinya hanya mencatatkan 38 kali passing progresif dari total 848 kali passing yang dilakukannya. Total jarak yang berhasil dieksploitasi dari passing-passingnya adalah 1.403,98 meter, dengan kata lain rata-rata jarak yang dieksploitasi tiap passingnya adalah 1,65 meter. 

Sebagai catatan jarak yang dimaksud di sini adalah perpindahan bola relatif terhadap gawang lawan. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar passing yang dilakukan oleh Rivaldo Pakpahan lebih bersifat horizontal.

Hal ini bisa dilihat dari grafik di atas, dari total 6 tipe passing yang sering dilakukan oleh Rivaldo Pakpahan, hanya terdapat satu yang bersifat vertikal (kanan atas). Instruksi dari pelatih bisa jadi merupakan salah satu faktor terhadap gaya passing dari Rivaldo Pakpahan yang lebih dominan bermain horizontal. Namun, dalam beberapa momen dirinya kerap melewatkan kesempatan untuk bisa melakukan passing ke depan.

Seperti terlihat pada sekuen aksi di atas, jika dirinya berhenti tepat di posisi seperti pada gambar pertama, maka dirinya akan mendapatkan sudut yang terbuka lebar untuk bisa mengakses opsi di balik lini tengah lawan. Hanya saja dirinya justru bergerak mendekat ke pembawa bola, sehingga ketika dirinya menerima bola, lawan tepat berada vertikal di depannya dan menutup sudut untuk bermain ke depan. Jika Rivaldo Pakpahan mampu mengidentifikasi lebih cermat peluang-peluang untuk bermain ke depan, kepergian Nduwarugira setidaknya lebih mudah ditambal.

Terlebih dirinya juga kerap turun sejajar dengan lini pertama, baik itu tepat di antara dua centerback atau di antara centerback dan fullback, seperti terlihat pada video di atas. Posisi ini memberinya peluang lebih besar untuk melakukan passing progresif karena secara natural dirinya memiliki pandangan yang lebih luas terhadap opsi-opsi yang ada di depannya.

Caxambu

Westherley Garcia Nogueira atau kerap dikenal dengan nama punggungnya, Caxambu, adalah pemain eksplosif yang sangat dinamis. Meskipun bermain di posisi fullback kiri, dirinya kerap berlari ke ruang di belakang lini lawan layaknya seorang winger. Kolaborasinya dengan Kei Hirose dan Mariano Peralta membuat serangan dari sisi kiri Borneo FC sangat dinamis.

Pada grafik di atas terlihat empat tipe passing progresif yang kerap diterima oleh Caxambu di area sepertiga akhir. Pola pertama (kiri atas) menunjukkan dirinya menerima bola dari lini belakang di posisi yang cukup tinggi. Umumnya pola ini terjadi ketika dirinya menghadapi lawan yang bermain blok medium dan tidak banyak pressure terhadap para centerback yang berusaha untuk melakukan sirkulasi bola. Dengan demikian dirinya bisa meninggalkan posisi fullback kiri dan mengambil posisi lebih tinggi layaknya seorang winger, seperti ditunjukkan pada video di atas.

Penempatan posisi yang lebih tinggi ini juga melepaskan rekannya di posisi winger dari tanggung jawab untuk menjaga kelebaran, sehingga rekannya bisa bergerak lebih bebas untuk menciptakan situasi menang jumlah di area sentral.

Pola ke-dua (kanan atas) adalah ketika dirinya menerima bola lebih dekat dengan kotak penalti lawan. Hal ini kerap terjadi ketika menghadapi blok pertahanan yang lebih rendah seperti ditunjukkan pada video di atas. 

Caxambu kerap melakukan pergerakan yang cukup variatif, baik itu overlap dari sisi luar ataupun underlap. Sementara itu pola ke-tiga dan ke-empat (bawah) adalah pola yang sering terjadi ketika dirinya menjadi target dari perpindahan bola dari sisi kanan menuju ke sisi kiri.

Komang Teguh

Pemain terakhir dalam ulasan kali ini adalah Komang Teguh. Bersama Nduwarugira dirinya merupakan pemain kunci di jantung pertahanan Borneo FC pada musim 2025/26. Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa kemampuan Nduwarugira dalam bertahan merupakan salah satu faktor penting performa apik Borneo FC musim lalu. Aspek ini perlu menjadi fokus utama yang harus ditingkatkan oleh Komang Teguh. Mengingat pada putaran kedua, ketika Borneo FC mendatangkan Cleyton dari Persis Solo, Komang Teguh beberapa kali digeser ke posisi fullback kanan.

Hal ini tentu bukan tanpa alasan, terdapat beberapa momen di mana Komang Teguh justru menjadi titik lemah pertahanan Borneo FC di dalam kotak penalti. 

Penutup

Menghadapi kompetisi dengan skuad baru dan perginya pemain-pemain kunci tentu bukanlah hal yang mudah. Namun bukan berarti hal tersebut mustahil, mengingat pesaing ketat Borneo FC musim lalu, Persib Bandung, juga berada pada situasi yang serupa. Persib bahkan berhasil mempertahankan gelarnya. Menarik untuk dinanti bagaimana performa Borneo FC pada kompetisi musim 2026/27 ini.