PSM, Mattoanging dan sang Legenda Andi Ramang

PSM, Mattoanging dan sang Legenda Andi Ramang

4 Oktober 2026

BRI SUPER LEAGUE 2026-27 PSM MAKASSAR

Persiapan gelaran Pekan Olah Raga Nasional (PON) pada penyelenggaraan keempat membuat Kota Makassar, berbenah. Stadion untuk perhelatan pun dipersiapkan. Itulah awal mula berdiri Stadion Mattoanging yang dibangun pada 6 Juli 1957.

Sejak itu pula tim sepak bola kebanggaan Makassar, Persatuan Sepak Bola Makassar (PSM) menjadikan stadion itu sebagai markas. Setelah sebelumnya bermain di lapangan terbuka yang terletak di sebelah timur Mattoanging.

Memiliki kapasitas 15.000 penonton, Mattoanging menjadi tempat permainan sepak bola khas Makassar. PSM dengan permainan agresif, keras, tanpa kompromi, serta tiada kenal menyerah. Kandang kala Mattoanging pun identik dengan gaya, 'bola boleh lewat, asal orangnya jangan lewat'.

Dari Mattoanging inilah muncul nama-nama besar yang mewarnai percaturan sepak bola Makassar di tingkat nasional. Bahkan menjadi kekuatan utama tim nasional Indonesia pada zamannya.

Di seluruh pelosok negeri, nama Andi Ramang menjadi buah bibir para pecinta sepak bola. Penyerang tajam yang lahir yang membela PSM Makassar. Kehebatan, kelincahan, kecepatan, dan ketajaman seorang pemain asal Asia yang membuat Ramang dijuluki si Kancil dan Kurcaci Monsters oleh FIFA, federasi sepak bola internasional.

Julukan yang didapat atas penampilan di Olimpiade Melbourne 1956. Seorang Ramang mampu membuat tim elite Eropa, Uni Soviet (Rusia) harus puas dengan skor imbang 0-0. Hanya kiper Lev Yashin--dikenal sebagai kiper legendaris dunia--yang membuat gawang Uni Soviet tidak bobol oleh kepiawaian Ramang yang membuat lini belakang gagal membendungnya.
Dua hari berselang, laga ulangan digelar. Taktik mematikan Ramang pun diterapkan Uni Soviet. Hasilnya, Indonesia harus takluk dengan skor 0-4.

Dua tahun berselang, Ramang pula yang membuat Indonesia selangkah lagi lolos ke Piala Dunia 1958 di Swedia. Gol-gol krusial Ramang membuat Indonesia unggul agregat 4-3 atas China. Sayang, Indonesia kemudian memilih mundur karena menolak tanding, karena bertemu dengan Israel.

Nama Andi Ramang sudah menyeruak di kawasan Asia ketika Indonesia melakukan tur ke beberapa negara. Indonesia pada tur di beberapa negara Asia itu membukukan 25 gol, dengan 19 gol merupakan sumbangan Ramang.

Karena itu, PSM pun identik dengan Ramang, keras, cepat, dan haus gol. Kecepatan tinggi, tembakan keras, ditandai pula dengan keahlian tendangan salto, memunculkan ketajaman dari sosok Ramang. Maka layaklah tersematlah julukan Pasukan Ramang untuk PSM.

Perjalanan panjang PSM sendiri diawali pada 1915. Secara resmi berdiri pada 2 November 1915, kala itu masih bernama Macassaarsche Voetbalbond (MVB). Cukup pantas menyandang sebutan, klub sepak bola tertua di Indonesia.

Seiring berjalannya waktu, pada era 1940-an beralihlah nama menjadi PSM hingga kini. Tim 'Juku Eja'atau Ikan Merah--selaras dengan warna kebanggaan tim--menancapkan dominasi sebagai kampiun di tingkat nasional. Lima gelar diraih saat berstatus kompetisi perserikatan, dan dua trofi juara di era modern--Liga Indonesia.

Lima gelar perserikatan ditorehkan pada 1957, 1959, 1965, 1966, dan 1992. Kemudian PSM menjadi kampiun Liga Indonesia, setelah penggabungan perserikatan dan kompetisi profesional Galatama (Liga Sepak Bola Utama)--pada musim 1999/2000, serta musim 2022/2023.

Stadion Mattoanging menjadi kandang sukses PSM, kecuali pada pencapaian di trofi juara terakhir. Sebagai kampiun di Liga Indonesia 2000, publik Mattoanging dimanjakan dengan tim impian dengan jejalan bintang sepak bola yang ada di Tanah Air.

Dengan duet manajer kakak beradik Nurdin Halid dan Kadir Halid, PSM memiliki duo striker tajam Kurniawan Dwi Yulianto dan Miro Baldo Bento. Dua gelandang pendukung yakni Bima Sakti, yang menjadi pemain terbaik musim 1999/2000, serta pengatur serangan asal Brasil Carlos de Mello. Di lini pertahanan, dikawal kiper terbaik Indonesia Hendro Kartiko, dengan dukungan bek Aji Santoso, Ronny Ririn, Yeyen Tumena, serta Ortizan Solossa.

Mattoanging membuat PSM menjadi pemuncak wilayah Timur, dan menyapu bersih tiga laga di babak delapan besar. Persija Jakarta menjadi korban di laga semifinal dengan gol tunggal Miro Baldo Bento pada laga di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Di laga final, giliran PKT Bontang dilibas dengan skor 3-2, dua gol diantaranya lahir dari kaki 'si Kurus' Kurniawan Dwi Yulianto.

Sedangkan pada gelar juara terakhir PSM pada musim 2022/2023, Stadion Mattoanging sudah rata dengan tanah. PSM berkandang di Stadion Gelora BJ Habibie, Parepare dengan catatan tidak terkalahkan di laga kandang sepanjang musim itu.

Nasib Stadion Mattoanging berakhir pada 2020, ketika rencana renovasi diapungkan. Dengan rencana pembangunan yang bakal menelan biaya hingga Rp1,4 triliun, harapan memiliki stadion megah membuncah. Namun seiring waktu, hingga kini stadion yang mengiringi kejayaan PSM itu tidak jua terwujud.

Namun, PSM kini masih punya calon kandang. Tidak hanya satu, bahkan dua stadion. Pembangunan Stadion Sudiang, yang ada di sisi timur kota, bakal rampung 2027 mendatang. Pembangunan disetujui menggunakan APBN dan dilakukan Kementerian PU. Selayaknya PSM mendapatkan stadion megah dengan kapasitas 27 ribu penonton berkursi single seat.

Di sisi lain, pemerintah Kota Makassar juga berencana Stadion Untia. Berada di sisi utara Makassar, pembangunan stadion tidak lama lagi dimulai dengan kucuran anggaran dari pemkot Makassar senilai Rp350 miliar.

Tidak lama lagi PSM memiliki kandang sendiri. Tidak lagi harus menjadi musafir. Memang bukan Mattoanging, yang mengiringi kejayaan selama ini. Bukan pula lapangan hijau yang diinjak dan tempat menari sang legeda 'Andi Ramang'.