Gegap gempita suporter sepak bola menjadi keindahan tersendiri di setiap laga. Suporter pun dilabeli pemain ke-12. Berada di luar 11 pemain yang bertarung, tetapi tidak dapat disangkal memberikan efek di pertandingan itu sendiri.
Itu pula yang kemudian memunculkan tim yang jago kandang. Piawai di markas sendiri dengan dukungan fanatik suporter, sehingga sulit terkalahkan. Namun kemudian melempem saat laga tandang di kandang lawan, karena tidak merasakan dukungan dari pemuja fanatik.
Syahdan, suporter pula yang mengiringi setiap laga yang tidak berjalan dengan semestinya. Keributan di luar dan di dalam tempat pertandingan, memunculkan kerumitan. Persoalan yang harus mendapat perhatian.
Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, sebagai lapangan termegah di Indonesia, menorehkan catatan kiprah suporter dari dua sisi itu. Suporter yang membuat tim yang didukung, termasuk Timnas Indonesia, mengukir sejarah kemenangan. Pun demikian dengan sisi negatif, yakni kericuhan hingga insiden tembakan gas air mata.
Namun, ada kalanya, 'dibutuhkan pentas drama' untuk membuat suporter bisa menerima pendukung yang berseberangan. Stadion Gelora Bung Karno yang penuh sesak penonton pada laga kompetisi nasional pada tahun 90-an akhir, diwarnai dengan saling lempar pendukung fanatik dua tim yang bertanding. Sempat pula terjadi adu fisik, setelah beberapa orang dapat memanjat pagar pemisah yang menyekat tribun.
Keributan itu kemudian sirna, seiring dengan hadirnya dua kelompok suporter itu. Tidak untuk melanjutkan bentrok, tetapi saling berangkulan dan berpelukan. Kemudian mereka kembali ke tribun masing-masing, sesuai dengan pemisahan yang dilakukan oleh pihak penyelenggara pertandingan. Skenario yang ternyata dirancang oleh 'orang dalam PSSI'. Semua itu dilakukan agar penonton dapat menerima suporter lawan, dan tidak mencuatkan perbedaan dukungan yang berujung pada kericuhan. Laga berlangsung lancar hingga peluit akhir berbunyi.
Sepak bola Eropa pun pernah pula terhenyak dengan Tragedi Heysel. Stadion Heysel di Brussel, Belgia, menjadi ajang bentrok pendukung Juventus dan Liverpool pada final Liga Champions 1985. Laga 29 Mei 1985 itu diwarna dengan robohnya dinding pembatas stadion, dan tercatat 39 nyawa melayang, sebagian besar pendukung Juventus.
Duka untuk klub Italia itu. Dan beringasnya pedukung tim Inggris membuat sang Perdana Menteri, Margaret Thatcher meminta asosiasi sepak bola Inggris (FA) melarang klub Inggris bermain di Eropa. Hal itu diamini organisasi sepak bola Eropa (UEFA) dengan sanksi larangan tampil klub Inggris di ajang sepak bola Benua Biru itu selama lima tahun! Khusus Liverpool mendapatkan tambahan tiga tahun, yang kemudian diringankan menjadi hanya satu tahun tambahan. Laga di pentas kompetisi dunia bagi klub Inggris pun tertutup, terkecuali laga Timnas Inggris serta pertandingan persahabatan.
Selepas Tragedi Kanjuruhan, Oktober 2022, kompetisi sepak bola Tanah Air musim 2026/27 kembali membuka keran untuk suporter tamu. Regulasi yang mendapat sambutan antusias dari para pemuja sepak bola di Indonesia. Bisa kembali memberikan dukungan langsung dari tribun penonton, dengan menyaksikan perjuangan tim pujaan di lapangan hijau.
Tentu saja ada beberapa catatan untuk tim dengan rivalitas tinggi di ajang BRI Super League 2026/27. Seperti laga yang mempertemukan Persib Bandung dan Persija Jakarta. Demikian pula dengan Arema FC dan Persebaya Surabaya.
Kehadiran suporter tamu tentu akan kian menyemarakkan pertandingan. Selain juga akan menambah jumlah penonton di setiap laga, serta sudah pasti pemasukan dari tiket terjual bagi tim tuan rumah.
Catatan bersumber dari Transfermarkt Indonesia dan operator liga, jumlah penonton terbanyak masih dimiliki tiga tim elite yakni Persib Bandung, diikuti Persija Jakarta, dan Persebaya Surabaya.
Sepanjang BRI Super League musim 2025/26, Persib Bandung setiap pertandingan ditonton 24.225 pasang mata. Total yang menonton laga kandang Persib mencapai 411.830 penonton. Persija mengoleksi total penonton 377.475 orang, dengan rerata 23.592 per pertandingan. Sedangkan Persebaya dengan 278.231 penonton, dengan setiap pertandingan dihadiri 16.366 penonton.
Dua klub lagi yang melengkapi lima besar yakni Borneo FC Samarinda dengan 118.375 orang, dengan setiap pertandingan ditonton 6.963 orang. Kemudian Persis Solo dengan 112.436 total jumlah penonton, serta dihadiri 6.613 penonton per pertandingan.
Namun, beberapa klub masih kesulitan memikat pemuja fanatik untuk hadir di pertandingan. Itu ditunjukkan dengan beberapa klub yang hanya menangguk penonton tidak lebih dari 2.000 orang per pertandingan secara rata-rata dalam semusim.
Kehadiran suporter tamu tentu memberikan angin segar bagi klub yang minim penonton. Selain itu, klub juga harus bersiap dengan aturan yang telah dirancang I.League selaku operator BRI Super League mengenai kewajiban memiliki fanbase.
Ini sejalan dengan apa yang diungkapkan Direktur Kompetisi I.League, Asep Saputra pada diskusi di akhir Agustus 2026, di Jakarta. Selain lisensi, klub juga memikirkan homebase, termasuk juga fanbase.
Fanbase tidak terlalu sulit untuk klub-klub eks era Perserikatan, layaknya Persib, Persija, dan Persebaya. Sedangkan hanya beberapa klub bekas Galatama yang punya suporter fanatik, sebut saja Arema FC.
Saat ini ada klub-klub dengan identitas baru, sehingga minim dukungan suporter. Klub seperti Dewa United Banten FC dan Bhayangkara Presisi Lampung FC harus diakui tidak mudah mendapatkan suporter dalam jumlah besar. Musim ini, hadir klub promosi seperti Isenmulang Kalteng FC, Java United FC, dan Garudayaksa FC yang juga harus bersiap dengan menggalang fanbase sesuai aturan I.League.
"Nanti akan ada juga di satu masa nanti minimal katakanlah fanbase penontonnya harus ada 2.000, 3.000, 5.000 orang, kan. Harus ada, nah itu sebetulnya bagian dari step berikutnya," ucap Asep.
Fanbase tentu tidak akan menyulitkan bagi tim promosi musim ini, seperti PSS Sleman. Klub berjuluk Super Elang Jawa pemilik suporter berlabel Brigata Curva Sud (BCS) atau Slemania. Suporter dengan koreografi yang memikat dan selalu menyemangati setiap PSS berlaga di kandang sendiri. BCS juga piawai mengumandangkan lagu terkenal dunia seperti "We're Not Gonna Take It" milik Twisted Sister. Bahkan hal itu mendapatkan perhatian dari sang vokalis, Dee Snider lewat media sosial yang bangga lagu ciptaannya menjadi lebih besar ketimbang yang dibayangkannya.