Ketika Pentolan Suporter Berseru

Ketika Pentolan Suporter Berseru

8 September 2026

BRI SUPER LEAGUE 2026-27

Oleh: Hanif Marjuni (Manager Club and Community Development)

Anda sudah tahu bahwa kebijakan suporter tandang atau away supporter sudah lama tak diizinkan. Tercatat, sejak Oktober 2022 lalu, tak ada lagi namanya perjalanan mendukung tim ke kandang lawan.

Dampak dilarangnya suporter tandang ini sangat terasa. Salah satunya, jumlah kehadiran penonton di stadion. Dalam hal ini, menurun jika dibandingkan angka jumlah penonton sebelum tahun 2022. 

Sebagai ilustrasi, total jumlah penonton BRI Super League 2025/26  berada di kisaran 1,9 juta atau rata-rata sekitar 5.600 penonton per pertandingan. Hitung-hitungan di atas kertas, jumlah penonton yang banyak, terbukti menguntungkan banyak pihak. 

Bukan hanya klub yang beruntung. Pedagang kaki lima, perajin souvenir, sampai dengan pihak broadcast pun, menyambut dengan suka cita. 

Nah, ketika pengumuman away supporter dibuka, muncul respons yang beragam. Klub, panitia penyelenggara, pengamat bola, suporter, akademisi, semuanya bersuara. Sebagian besar mendukung. 

Pada beragam media sosial misalnya. Respons positif bermunculan.  Terutama dari akun yang mayoritas pengikutnya kalangan suporter yang selama ini memang dikenal militan. Point of view mereka sama, kembali pada situasi normal. Dengan kata lain, bisa mendukung tim, kemana pun perginya. 

Betul. Sempat muncul suara-suara skeptis. Ada yang meragukan kebijakan away supporter akan dipatuhi semua pihak alias idem ditto dengan yang sebelumnya.

Inilah yang menjadi perhatian. 

Ketika sebagian besar menyuarakan dukungan pada kebijakan dibukanya suporter tandang, harus ada persamaan persepsi. Semua pihak. Terutama di kalangan suporter. 

Lalu, harus ada komitmen bersama.

Berawal dari Bali

Pada Jumat, 4 September 2026, pentolan suporter klub-klub Super League berkumpul di Bali. Kebetulan, hari itu, secara resmi dilakukan  kickoff  BRI Super League 2026/27. Tepatnya pada pertandingan Bali United versus PSS Sleman. 

Kedatangan pentolan suporter ini, didamping Supporter Liaison Officer (SLO) dari masing-masing klub Super league.

Pentolan suporter dan SLO ini sengaja dikumpulkan. Sebagian besar hadir pada Kamis, 3 September 2026.

Mereka terdiri dari SLO dan pentolan suporter dari tim-tim besar seperti Persija Jakarta, Persebaya Surabaya, Persib Bandung, Arema FC. Lalu ada SLO dan pentolan suporter dari tim-tim dengan suporter yang tak kalah militannya seperti Borneo FC Samarinda, Bali United FC, PSS Sleman, Madura United FC, PSIM Yogyakarta, Persik Kediri, Dewa United Banten FC, Persita Tangerang, PSM Makassar, Bhayangkara Presisi Lampung FC, Java United FC dan Persijap Jepara. Ada juga tim yang baru membentuk komunitas suporternya, seperti Garudayaksa FC dan Isenmulang Kalteng FC.

Ajang pertemuan ini, tak melulu soal silaturahmi. Banyak yang sebelumnya tak kenal, akhirnya saling mengetahui antara satu dengan yang lain. Banyak juga yang berbagi ilmu dan pengalaman, soal pengelolaan massa tentunya.

Lebih dari itu, tujuan mereka berkumpul lebih pada kebersamaan. Pesannya sama. Butuh komitmen dan pemahaman bersama. Terutama yang berkaitan dengan implementasi suporter tandang.

Hasilnya, setelah berdiskusi, ada beberapa poin yang akhirnya disampaikan dalam deklarasi suporter yang dibacakan pada saat opening BRI Super League 2026/27. 

Intinya, ada beberapa poin kesepakatan. Yakni jaga kondusivitas, stop anarkisme dan kekerasan, no rasisme dan SARA, tertib serta taat aturan, berkomitmen positif saat away dan bersikap ksatria dan sportif.

Pertanyaannya, akankah semua suporter akan berkomitmen dengan kesepakatan tersebut? Melihat semangat para pentolan suporter, sepertinya deklarasi itu bukan formalitas. Mereka tulus, serius dan punya keinginan yang sama yakni menjaga dan memajukan sepak bola Indonesia.

Pada titik ini, suporter sudah menjadi identitas sosial. Logika sederhananya, dari identitas itu mereka ingin diakui, dalam skala yang lebih luas tentunya.

Sepak bola menyatukan kita semua. Semoga.