Lebih Dari Separuh Gol Tercipta Di 30 Menit Terakhir

Lebih Dari Separuh Gol Tercipta Di 30 Menit Terakhir

3 Januari 2026

BRI SUPER LEAGUE 2025-26

Oleh: Tim Football Academy I.League


BRI Super League mencatat satu pola yang konsisten hingga Pekan 14. Fase 61–90 menit menjadi periode paling produktif untuk gol, sekaligus fase dengan perubahan game-state paling sering terjadi. Dampaknya terasa langsung pada cara tim mengelola pertandingan baik saat mengejar hasil maupun saat mempertahankan keunggulan.

Data pertandingan BRI Super League hingga Pekan 14 menunjukkan pola konsisten, bahwa gol paling banyak tercipta pada interval menit 61–90. Tren ini muncul hampir di seluruh pekan pertandingan dan menjadi karakter kuat kompetisi musim ini sampai Pekan 14. 

Berdasarkan hasil rekap data analisis, dari total 322 gol yang tercipta sampai Pekan 14, interval 61–90 menyumbang 163 gol (50,6%). Interval 0–30 menghasilkan 67 gol (20,8%), sementara 31–60 menyumbang 92 gol (28,6%). Tren ini menggambarkan tingginya intensitas kompetisi, pentingnya kedalaman skuat, serta peran krusial keputusan taktis dan mentalitas bertanding di fase akhir laga.

Berikut ringkasan statistik utama hasil olahan data pertandingan hingga pekan ke-14:

Secara sederhana, sekitar 1 dari 2 gol di BRI Super League terjadi setelah menit ke-60. Angka ini menempatkan fase akhir pertandingan sebagai periode paling produktif sekaligus paling menentukan.
Fase 61–90 menit merupakan momen ketika pertandingan memasuki “zona krusial”. Di rentang inilah permainan sering mengalami perubahan besar, baik karena tim yang tertinggal meningkatkan risiko untuk mengejar gol, atau tim yang unggul menyesuaikan untuk mengamankan hasil. Secara teknis, beberapa faktor utama yang kerap muncul pada fase ini antara lain:

Efektivitas pergantian pemain
Kedalaman skuat dan kualitas pemain pengganti dapat mengubah ritme pertandingan. Tim dengan kedalaman skuat yang baik dan rotasi yang tepat, cenderung mampu menjaga intensitas pertandingan sampai akhir.

Manajemen stamina dan tempo
Setelah menit 60, konsistensi fisik menjadi pembeda. Tim yang tetap bisa menjaga tempo dan intensitas secara baik biasanya lebih stabil menghadapi tekanan late game.

Konsentrasi dan detail defensif
Banyak gol menit akhir lahir dari detail kecil: kehilangan marking, salah antisipasi second ball, atau transisi yang terlambat. Fokus dan disiplin selama 90 menit penuh menjadi kunci.

Tim-tim “Spesialis Menit Akhir”
Pada level klub, distribusi gol menit 61–90 memperlihatkan dua kutub yang cukup jelas. Tim dengan late-game threat yang konsisten, dan tim yang paling sering kehilangan poin di fase ini.

Untuk produktivitas, Persija (16 gol) menjadi tim paling tajam di interval 61–90, disusul Borneo (15) dan Persib (12). Di bawahnya, Persita (11) dan PSM (11) juga masuk kelompok dengan output tinggi di 30 menit terakhir. Pola ini biasanya muncul dari kondisi yang spesifik: kemampuan menjaga intensitas hingga menit akhir, serta kontribusi pemain pengganti dalam menjaga tempo dan menciptakan situasi berbahaya.

Di sisi lain, daftar kebobolan late game memberikan beberapa hal yang perlu dicermati. PSBS Biak menjadi tim dengan kebobolan terbanyak di fase 61–90 yaitu dengan 16 kebobolan, diikuti Dewa United Banten FC (15) dan Persis Solo (14). Setelah itu ada Persik Kediri (13), lalu Persijap dan Semen Padang FC yang sama sama mencatat 10 kebobolan.

Pada kompetisi dengan distribusi gol seperti BRI Super League, fase 61–90 sudah menjadi fase yang sangat krusial. Hasil pertandingan sering ditentukan oleh detail-detail kecil baik itu saat menyerang ataupun bertahan. Bukan hanya soal menciptakan peluang, tetapi soal menahan momentum lawan ketika pertandingan memasuki 15–30 menit terakhir. Tim yang tidak mampu mengelola fase ini dengan baik akan terus kehilangan poin di momen paling mahal.