Oleh: Presdir Office I.League
SEPAK bola selalu berbicara tentang banyak hal. Tentang kemenangan dan kekalahan, tentang sorak dan kecewa, tentang warna, nyanyian, dan emosi yang tak pernah benar-benar bisa dijelaskan dengan angka. Namun di balik semua itu, ada satu hal yang sering terlupakan: sepak bola adalah tentang manusia dan keluarga besar yang tumbuh di sekitarnya.
Di Indonesia, sepak bola hidup dalam rivalitas. Setiap musim, kita menunggu pertemuan-pertemuan besar, laga-laga yang memantik adrenalin dan membelah dukungan. Di tribun dan layar kaca, emosi memuncak, gengsi dipertaruhkan. Rivalitas ini wajar, bahkan penting. Ia memberi warna, memberi cerita, dan membuat kompetisi terasa hidup. Tanpa rivalitas, sepak bola akan kehilangan sebagian jiwanya.
Namun seperti dalam sebuah keluarga, rivalitas selalu punya batas. Dalam keluarga, perbedaan pendapat adalah hal biasa. Persaingan pun bisa terjadi. Tapi kebencian, penghinaan, apalagi ancaman, bukanlah bagian dari nilai keluarga. Ketika batas itu dilanggar, yang terluka bukan hanya satu individu, melainkan kemanusiaan itu sendiri.
Belakangan ini, sepak bola Indonesia kembali dihadapkan pada cermin yang jujur. Ancaman terhadap keluarga pemain dan ujaran rasis yang menyasar identitas serta warna kulit mengingatkan kita bahwa masalah ini belum benar-benar selesai. Ini bukan tentang satu pertandingan, satu klub, atau satu kelompok. Ini tentang pola yang berulang, tentang kebiasaan yang perlahan dinormalisasi, seolah emosi pertandingan bisa menjadi pembenaran atas segala hal.
Padahal, pemain yang berlaga di lapangan adalah manusia. Mereka datang dari latar belakang yang berbeda, membawa mimpi, keluarga, dan kehidupan di luar sepak bola. Mereka bisa dikritik karena performa, karena strategi, karena hasil pertandingan. Itu bagian dari olahraga. Tetapi ketika kritik berubah menjadi hinaan rasial dan ancaman, maka sepak bola telah kehilangan arah.
Di sinilah makna Football Family menjadi penting. Sepak bola Indonesia bukan hanya milik pemain atau klub tertentu. Ia adalah milik bersama. Suporter, pemain, pelatih, ofisial, pengelola kompetisi, hingga keluarga para pemain adalah bagian dari satu ekosistem yang sama. Dalam keluarga, dukungan tidak selalu berarti setuju. Namun rasa hormat selalu menjadi fondasi.
Football Family bukan berarti menghilangkan rivalitas. Justru sebaliknya, ia mengajarkan bagaimana rivalitas dijalani dengan kedewasaan. Bagaimana emosi disalurkan tanpa melukai. Bagaimana perbedaan tetap berdiri berdampingan dengan rasa saling menghormati. Karena pada akhirnya, lawan di lapangan hari ini bisa menjadi rekan, sahabat, atau bahkan keluarga dalam perjalanan sepak bola di masa depan.
Sepak bola Indonesia sedang bertumbuh. Ia belajar, jatuh, lalu bangkit lagi. Proses ini tidak hanya diukur dari kualitas permainan atau hasil di klasemen, tetapi juga dari bagaimana kita memperlakukan satu sama lain di dalamnya. Apakah kita memilih menjaga, atau justru merusak rumah yang kita cintai bersama.
Football Family adalah pengingat sederhana namun mendasar: bahwa dalam sepak bola, kita boleh berbeda warna, berbeda dukungan, dan berbeda pandangan. Tetapi kita tetap berada di satu keluarga yang sama. Dan dalam keluarga, tidak ada ruang untuk kebencian, rasisme, dan ancaman. Yang ada hanyalah semangat untuk tumbuh bersama, saling menjaga, dan membuat sepak bola Indonesia menjadi rumah yang aman bagi semua.