MALANG -- Setelah menyambangi sejumlah kota, program I.League Goes to Campus kini hadir di Malang, kota yang menjadi rumah bagi Arema FC, salah satu kontestan BRI Super League 2026/27.
Membuktikan mencintai sepak bola tidak selalu harus dengan menjadi pemain profesional. Di balik gemuruh stadion dan persaingan di lapangan, ada banyak profesi yang turut menghidupkan industri olahraga paling populer di Indonesia tersebut.
Pesan inilah yang dibawa gelandang Arema FC, Hanif Sjahbandi, ketika bertemu ratusan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Senin (12/10) kemarin.
Dalam kesempatan itu, ia mengajak mahasiswa melihat sepak bola dari perspektif berbeda. Bukan sekadar pertandingan, gol, atau prestasi, melainkan sebuah industri yang membutuhkan beragam keahlian.
Apalagi perkembangan sepak bola modern membuat peran pemain tidak lagi terbatas pada aktivitas bersama klub. Popularitas dan pengaruh mereka di ruang digital turut menciptakan peluang ekonomi baru.
"Sekarang pemain bekerja bersama videografer, fotografer, sampai tim manajemen pribadi. Ada orang-orang di sekitar mereka yang bertugas menjaga nilai (value) itu," ujar Hanif Sjahbandi.
"Jadi, peluang kerja tidak melulu datang dari liga atau klub, pemain pun membuka ruang itu," imbuhnya.
Fenomena ini sekaligus memperlihatkan bahwa perkembangan industri sepak bola dapat memberikan kesempatan bagi lulusan berbagai disiplin ilmu.
Mahasiswa yang memiliki kemampuan komunikasi, bisnis, manajemen, maupun industri kreatif berpeluang mengambil peran tanpa harus memiliki pengalaman sebagai atlet profesional.
Dia kemudian mengangkat perjalanan Sudarmaji, perwakilan manajemen Arema FC yang merupakan alumnus UMM.
"Pak Sudarmaji latar belakangnya orang media, bukan sepak bola. Tapi karena kecintaan dan dedikasinya pada Arema, beliau bisa terus berkecimpung dan ikut membesarkan klub sampai sekarang," ujar mantan pemain Persija Jakarta itu.
"Kalian yang punya passion di Arema tetap bisa ambil bagian lewat bidang keahlian masing-masing," sambungnya.
Selain membicarakan peluang pekerjaan, dia juga membagikan pandangannya mengenai bekal yang dibutuhkan anak muda untuk bertahan dalam dunia profesional.
Dia mengingatkan bahwa ketertarikan terhadap suatu bidang tidak cukup apabila tidak dibarengi kesungguhan dalam menjalaninya. "Motivasi itu cepat naik dan cepat turun, tapi disiplin dan konsistensi yang membuat kita bertahan lama," pungkas Hanif Sjahbandi.