TANGERANG - Dewa United Development menggelar mediasi dengan Bhayangkara Youth di Dewa United Arena, Tangerang, pada Rabu (22/4) siang. Pertemuan ini merupakan tindak lanjut atas insiden kekerasan yang terjadi dalam laga Elite Pro Academy (EPA) Super League U20 di Stadion Citarum, Semarang.
Mediasi berlangsung dalam suasana kondusif dan penuh itikad baik. Kedua belah pihak sepakat untuk menyelesaikan permasalahan secara kekeluargaan dengan mengedepankan nilai sportivitas serta tanggung jawab bersama dalam pembinaan pemain usia muda.
Direktur Akademi Dewa United Development, Firman Utina, menyampaikan bahwa proses mediasi telah berjalan dengan baik dan menjadi langkah awal untuk memperbaiki keadaan.
“Alhamdulillah hari ini mediasi sudah selesai, kami sudah bersilaturahmi, sudah saling memaafkan. Kembali lagi, karena anak-anak ini adalah tanggung jawab kita bersama-sama, ini bukan anak-anak kita, tapi anak-anak kami. Jadi anak-anak kami, itu adalah anak-anak yang kita harus lindungi bersama-sama,” ujarnya.
Dalam proses mediasi tersebut, penyampaian permohonan maaf juga telah dilakukan oleh pihak-pihak yang terlibat, termasuk kepada seluruh pemain yang terdampak.
“Alberto sebagai salah satu pelaku juga sudah minta maaf kepada Rakha, bahkan kepada teman yang lain, kepada pemain-pemain yang lain. Kami rasa ini semua sudah beres,” tuturnya.
Lebih lanjut, Firman menyampaikan pesan dari pimpinan klub yang tidak dapat hadir dalam pertemuan tersebut, namun tetap mengikuti perkembangan situasi dan mengambil sikap bijak.
“Penyampaian dari pimpinan kami, mohon maaf beliau tidak hadir, Pak Ardian tidak bisa hadir, tapi beliau memang ada sedikit kecewa, tapi memaafkan. Memaafkan karena ini anak-anak, dia rasa ini juga enggak ada tuntutan sampai ke hukum untuk si Beto, tapi ini lebih bagaimana cara kita melindunginya,” terangnya.
Menurutnya, kejadian ini tidak lepas dari pentingnya pembinaan dan edukasi yang berkelanjutan bagi para pemain muda.
“Karena dia merasa bahwa kita sebagai orangtua, ya mungkin ada hal-hal yang tidak sampai secara edukasi terhadap anak yang akhirnya lepas kontrol. Nah ini jadi tanggung jawab kita sama-sama,” tegasnya.
Sebagai bentuk komitmen klub, Dewa United Development akan melakukan evaluasi serta tindak lanjut terhadap pihak-pihak yang terlibat sesuai dengan aturan yang berlaku.
“Saya juga sebagai Direktur Akademi akan menindaklanjuti terhadap pemain-pemain kami yang terlibat, dan staf pelatih yang mungkin tidak terkontrol dengan anak-anak kami. Maka kami akan tindaklanjuti karena itu memang sudah prosedur dari pimpinan kami, Pak Ardian, jika ada sesuatu yang melanggar kode etik dan indisipliner dan membuat cemar nama Dewa United, maka itu ditindaklanjuti secepatnya,” urainya.
Di akhir pernyataannya, Firman menyampaikan permohonan maaf dari pimpinan klub sekaligus menegaskan bahwa proses selanjutnya akan diserahkan kepada otoritas sepak bola yang berwenang.
“Itu saja dari kami, permohonan maaf dari pimpinan kami, Pak Ardian, dan kami menyerahkan hal ini atau kelanjutan hari ini kepada PSSI, Komite Disiplin, I.League penyelenggara Liga. Mudah-mudahan ini bisa jadi bahan evaluasi kita bersama-sama,” tutupnya.