SEMARANG – PSIS Semarang tampil beringas menghantam Persipal FC dengan skor telak 6-1 dalam lanjutan pekan ke-22 Grup 2 Pegadaian Championship 2025/26 di Stadion Jatidiri, Minggu (29/3) malam. Di tengah gemuruh ribuan suporter, cahaya lampu stadion seolah hanya menyorot satu sosok di atas rumput hijau, Alberto "Beto" Goncalves.
Pesta gol PSIS dibuka lewat sontekan dingin Beto pada menit ke-22. Ketajaman striker naturalisasi asal Brasil ini seolah tak tertahan; ia kembali mencatatkan namanya di papan skor pada menit ke-73, sebelum akhirnya menutup malam dengan hattrick sempurna di menit ke-90.
Pesta Laskar Mahesa Jenar kian lengkap lewat aksi Esteban Vizcarra (45'), Muhammad Dani (69'), dan penalti bek senior Otavio Dutra (84'). Tim tamu hanya mampu mencuri satu gol hiburan lewat Afandi di masa injury time yang mencapai 14 menit.
Namun, daya tarik utama malam itu tetaplah Beto. Di usia 45 tahun—angka yang bagi banyak pemain berarti masa pensiun—mantan ujung tombak Timnas Indonesia ini justru tetap menjadi momok mengerikan. Perjalanan kariernya di musim ini pun penuh dinamika.
Sebelum berseragam Biru Tengah, ia sempat membela Persela Lamongan. Catatannya cukup kontras: hanya mengemas 1 gol dari 10 laga di Lamongan, namun mendadak "meledak" bersama PSIS dengan torehan 4 gol hanya dari 8 pertandingan.
Angka yang mungkin terlihat sederhana, namun menjadi istimewa jika mengingat usianya yang telah menginjak 45 tahun. Transformasi ini bukan kebetulan. Sejak debut di Indonesia pada 2008, Beto dikenal sebagai penggila latihan.
Tak hanya di level klub, kontribusi Beto untuk Timnas Indonesia juga tak bisa diabaikan. Sejak debut pada 2018, ia telah mengoleksi 12 caps dengan torehan 10 gol—rasio yang menunjukkan naluri golnya tetap tajam di panggung internasional.
Profesionalisme itu pula yang membuat Beto bukan sekadar pelengkap kuota pemain senior. Ia adalah anomali di tengah sepak bola modern yang menuntut kecepatan fisik ekstrem. Baginya, setiap gol adalah cara untuk membungkam skeptisisme publik mengenai usia.
Pundi-pundi golnya masih berpotensi bertambah. Apalagi di saat rekan seangkatan sudah lama gantung sepatu, Beto tetap berdiri tegak di garis depan.
Ia membuktikan bahwa selama gairah masih ada di dada dan insting predator belum pudar, waktu hanyalah deretan angka yang tunduk pada dedikasi. Selanjutnya, PSIS akan menjamu PS Barito Putera pada Minggu (5/4) mendatang.